Thursday, April 07, 2011

Upper-case Sensitive

Interlok

Petikan dari Interlok karya SN Abdullah Hussain.

* Huan Na: Orang Hutan

Hlm 195: Cing Huat tidak berapa suka anak-anaknya itu bergaul dengan anak-anak Huan Na. Dia takut kemalasan mereka itu menular kepada anaknya.

Hlm 198: "Gua lihat lu banyak berkawan dengan anak-anak Huan Na itu," kata tauke Cing Huat pada anaknya, Yew Seng.

"...Lu mahu ikut macam Huan Na. Malas, tak tahu cari duit. Gua tak mahu lu jadi macam mereka."

Hlm 202: "...dia berasa lega juga kalau Yew Seng duduk-duduk di rumah membaca buku daripada berkawan dengan anak-anak Huan Na, dengan anak-anak malas itu..."

Tiga kali buku ini menonjolkan orang hutan (Huan Na) dari golongan orang-orang malas.

Huan Na adalah panggilan Cina pendatang kepada kumpulan yang berbangsa Melayu.

Orang Melayu seharusnya rasa lebih sensitif dari bangsa Cina atau Hindu setelah membaca buku ini. Perhatikan betapa kasarnya anggapan orang Cina terhadap bangsa Melayu sehingga terbukti jelas dalam 3 halaman.

Hlm 216: ...hampir semuanya tahu bahasa Tamil. Malayali dan Telugu pun berasal dari satu rumpun bahasa Dravida. Satu perkara besar yang membuatkan mereka senang bergaul ialah kerana mereka tergolong dalam satu kasta Paria. Mereka tidak takut mengotori sesiapa kalau bersentuhan dan mereka bebas lepas bergaul.

Kata saya: Terdapat beberapa isu sensitif (contoh di atas) berkaitan bangsa dalam buku ini. Sebagai novel untuk dibaca oleh khalayak ramai, buku ini amat digalakkan. Walau bagaimanapun, ia terlalu sensitif untuk dijadikan buku teks KOMSAS.

Menengadah membilang layas, menangkup membilang lantai.Take the consequence!

Pertanyaan: Bolehkah dikatakan buku ini tepat dengan promosi imejan 1Malaysia?

******

Thursday, March 31, 2011

Scented Orchid

Scented orchid from Okinawa

Most orchids do not emit aroma, maybe some kinds do throw a brush of fresh smell but would you believe it, this orchid is aromatically attractive. I found this orchid in a garden full of other orchids up on the north part of this island.

At first, I just walked around it but something pulled me, the fragrant aroma. Strangely, I have not seen any variety of orchid so mini as this and again the colour is pale green, not like those with their splashy red and purple colours.

Something inspired me to write a haiku on this aroma but I've changed my haiku page somewhere else.

*****

Tuesday, March 22, 2011

Consideration



This is what the video says.

Nobody can see feelings,
but COMPASSION can be seen,
Thoughts cannot be seen,
... but everybody can see CONSIDERATION.
(translation by Leyla Shuri).

*****

Friday, March 18, 2011

Tafakur

Saya demam...demam membaca komen-komen di Facebook yang mengeluarkan gambar orang-orang cacat akhibat radiasi di Chernobyl satu masa dulu. Orang-orang yang mengeluarkan gambar-gambar itu rasa ghairah menunjukkan kepandaian masing-masing. Kepandaian mencari ilmu dalam internet, kemahiran menarik maklumat dari sana sini tapi tak berhati perut memahami kesusahan orang-orang yang menghadapi bencana yang betul-betul terjadi dalam kehidupan mereka. Duduklah diam2. Janganlah membingitkan lagi keadaan kalau kamu tidak dapat menolong.

Saya demam...demam dengan orang-orang yang merasa diri baik sangat. Elok saja membuat andaian kepada mereka yang ditimpa bencana. Orang-orang yang malang itu buat jahat, mereka buat maksiat, mereka tak ada agama, mereka sembah bahala, sembah nenek moyang, mereka memusnahkan alam.
Apakah sebagai orang Islam mereka menganggap diri bagai malaikat? Mereka angkuh ada agama. Kononnya mereka yang terbaik sebab malapetaka tidak menimpa mereka. Kononnya dengan adanya agama, jalan mereka tentu-tentunya terus ke Syurga. Betul sudah tentukah?

Kenapa orang Melayu begini? Kenapa?
Orang Islam di negara lain tidak pula begini, malah mereka sama-sama Islam juga.
Orang-orang yang beragama lain juga tidak begini, malah mereka datang dengan apa cara juga untuk menghulurkan bantuan.

Adakah orang Melayu memang dari darah orang tidak berhati perut, orang tidak berperikemanusiaan, orang tidak berperihatin sehingga orang atasan dan media mereka dikritik oleh rakyat seluruh dunia. Kenapa orang Melayu begini? Kenapa?

Orang Melayu, bila kamu akan bijak?

*****

Monday, March 07, 2011

Yamaimo (ubi)

Yamaimo Yam

Here is another session on Japanese food and its cooking. That thing in the photo that looks like potato is from the yam family.

Zahirnya seperti ubi kayu. Ada kulit tebal yang perlu dibuang pada badannya. Isi ubi is putih dan bila dibiarkan setelah dibuang kulit tebal itu, warnanya betukar kemerah-merahan. Parut ubi ini. Seperti kacang bendi, ia meleki-lekit. Campurkan kicap shoyu Jepun dan wasabi hijau yang pedas. Tuangkan campuran ini ke atas nasi.

Serving Yamaimo

It is easy to prepare this yam. Peel off the thick covering and grate it. It is very gluey like white egg. Mix some Japanese shoyu with a pinch of hot green wasabi (grated horseradish) with it and spread it on top of a bowl of rice. Just like that.
This photo shows some suggestion to go with the yamaimo. It is mix fried vegetable with anchovy (also ok with mince meat) and deep-fried brinjal with sesame oil dressing.

*****

Thursday, March 03, 2011

I am dancing...



Spring seems so stubborn. The sky this morning is still grey. Mr. Sun is still hibernating in heaven's cave. I put on this song to lighten up my mood. When my blood got heated up I sing along and danced with it.
Hubby walked in the room saying his next meeting will be at the end of this month.
I said, "Ok. please put it in the ice-box!"
And continue dancing...la, la, la...

*****

Wednesday, March 02, 2011

Royal Minton

Royal Minton Haddon Hall-1793

Pagi ini entah kenapa diri ini terasa sangat tidak adil. Kenapalah diri ini membiarkan perkara yang membazirkan selama bertahun-tahun ini.
Pagi ini seperti biasa diri ini menyukat 3 sudu serbuk kopi dari perasa Kilimanjaro dan curahkan ke dalam kertas tapis. Lalu disiram dengan air panas. Berbau aroma kopi menusuk dapur meresap setiap atmosfera.
Tetapi hari ini berbeza dari hari-hari sebelumnya, kopi itu dituang ke dalam Royal Minton dan ditatang ke hadapan tuan itu.
Tuan itu bertanya hari ini khas hari apa sebab ditatang dengan Royal Minton.
Saya kata, tuanlah orang paling layak untuk mencicip dari cawan itu.
Selama ini cawan itu dikhaskan untuk tetamu. Ada yang datang hanya sekali dalam hayat mereka ke rumah ini, ada yang tidak berkesempatan pun menyinggah dan selainnya Royal Minton itu hanya dipuji mata dari jauh sahaja.

Minumlah tuan...

*****

Saturday, February 26, 2011

Gingko Rice

Photo credit: Ginkgo trees of Jingu-Uji-kosakusho in Ise city. Mie prefecture, Japan.
Go into any pharmacy and check out the vitamin supplements counter. You cannot miss Ginkgo Biloba. Most people acknowledge the health benefits from gingko but have never seen the actual fruit and its nut.
The first time I knew gingko was when this pungent smell reached my nose one autumn day in Japan. I was walking under a gingko tree. The leaves are yellowing and twirling around everywhere, carpeting the pavement. I saw small rotting fruits under my steps. My friend who was walking together told me to collect the rotting fruits. That moment I thought she has some bad tasting mouth telling me to collect some rotting, smelly fruits on the pavement like some kind of hungry, homeless soul that wonders aimlessly in the park.
She strongly said the gingko seed is nice to eat and rather expensive in the market. Well then, lady, you picked those rotten smelly fruits yourself was on the tip of my tongue.

She was right. That was some 20 odd years ago but now I'm addicted to that nut.
I normally cooked gingko in my rice. Here in the picture is gingko and green peas rice.
Gingko rice with Japanese side dish
That was lunch. Baby potato with sesame and olive oil, some small fish (ikan bilis) with konbu (sea kelp), chicken with black pepper and white radish with taufu soup.

I just dissolve some chicken cube into the rice cooker with the gingko seed and some green peas.

Gingko rice with western serving

Here I served the rice with garlic fried chicken and mushroom sauce flooding the broccoli and baby potatoes.

It is quite easy to get the gingko seed in a can. The product comes from China, if you cannot get the fresh nuts.

*****

Wednesday, February 23, 2011

Sa-bisu

Tree House Diner going towards Naha Airport (pic. by google)

After paying for my grocery, I saw a counter with coffee machine and some cups. On the counter was written "Service Counter". It has been a while I haven't been to this shop. I feel some things have changed.
I asked a shop assistant walking passed, "kofi wa legi de harau desuka" (do I pay at the cashier for the coffee?)"
She said, "sa-bisu deshou"!
Sa-bisu to mean "service".
When you send you car for service, that means you are doing a service for your car. So when the Japanese says sa-bisu to you it means they are doing you a service. Basically, service means free. No payment.
If you want something free, you don't say, "Give me free!"
You say, "sa-bisu kudasai!"
This is English Japanese. A kind of English only the Japanese understand.

At the counter, two elderly couple were sipping the sa-bisu kofi. As I approached I asked the lady, "tsumetai desuka" meaning is it cold?
I got from her, "hotto kohi!"
Hah, hot coffee! I should have used English in the first place, I told myself, feeling small.


See? Who says the Japanese cannot speak English. They speak English very well.

Buraku Hotto kofi sa-bisu beri naisu! (Strange but true, this is English!)

*****

Tuesday, February 08, 2011

Winter Sunflower

Winter Sunflower

Looking at the mess in the tatami room, I told myself to get out of the house, no matter the familiarity with a ship in a storm.
So, I practically pulled hubby and go up north. Not to far but it was a good rest for my head and eyes.
We reached a field of winter sunflower. That's me in my peachy cap hiding in between the flowers.
I think they grow the flowers for the seed, maybe to make cooking oil or to sell as bird's food.

~~~~~~

Wednesday, February 02, 2011

Greedy for books

Google:Dr.Zhivago

I buy books (the whole lot on my wish-list) whenever I return to Malaysia. I patiently wait for that time. Then read them during those quiet time alone at home. My husband warned me not to use credit cards to buy anything online. His money, so as the obedient wife, I obliged. Just a few weeks ago, I saw the movie Dr. Zhivago on the movie channel for the 3rd time. I told myself to get the book and it went on my wish-list.
At the same time, I tried to download it on the e-book sites. But some asked for US33/- and some told me to be a member and some just take like a week to download (even with my fast broadband). I gave up.
I came across Amazon.Japan and saw the price at second-hand on at Y399 plus Y250 for transport. My mouth just waters and then I looked and the payment method.
What?
I don't have to use credit card!
I just take the Payment number given by email and input it in the payment machine at the convenient stores. That simple. Just pay cash and the book is delivered to my address.
Of course, I practically ran to the stores and make payment.
I got it today.
But hubby is mumbling something like "you still haven't start on those 15 books you bought years ago!"

~~~~~

Friday, January 28, 2011

Amalan orang Melayu, Bidaah & Sunnah

Kalau sempat cubalah selak-selak halaman buku ini sambil duduk-duduk, insya-Allah ada kebaikan di dalam catatannya.

Sunnah dan Bidaah dalam Amalan Orang MelayuSunnah dan Bidaah dalam Amalan Orang Melayu by Jawiah Dakir/Wan Awang Wan Ali
My rating: 4 of 5 stars

hlm 177: ...adat bersanding di atas pelamin itu tidak ada dlm sunnah.
...bersanding itu berasal drpd adat Hindu.

Hlm 183: Rasulullah SAW tidak mengambil wang drpd para jemputan yg dtg memakan jamuan "walimah" perkahwinannya tetapi Rasulullah SAW pernah menerima hadiah makanan...kemudian dijadikan "walimah" perkahwinannya.
Jamuan perkahwinan utk org kaya sahaja merupakan jamuan yg keji.

Berhimpun di rumah si mati utk tujuan takziah kpd keluarga si mati atau ingin menolong org yg sudah mati dgn berdoa dan bersedekah pahala kebajikan kpd roh si mati sesudah mayat dikebumikan merupakan amalan yg tidak menepati Sunnah. Namun, berhimpun dgn tujuan mengurus mayat spt sembahyang, kafan dan memandikan mayat ialah amalan yg dituntut kerana ianya menjadi fardu kifayah kpd org Islam yg masih hidup dan dilakukan dgn cara berjemaah.

...catatan menekankan kpd berhimpun di rumah si mati selama 3 hari, 7 hari atau 40 hari setelah mayat dikebumikan. Adakah amalan in termasuk dalam niyahah yg diharamkan? Berikut ialah hadith yg melarang berhimpun dan menyedia makanan dan minuman di rumah si mati.

....para Sahabat mengirakan perhimpunan dgn keluarga si mati selepas jenazah dikebumikan dan memakan makanan di sisi mereka adalah satu cabang daripada al-niyahah kerana membebani dan mengganggu mereka, sedangkan mereka dlm kesibukan menghadapi kematian, juga bercanggah dgn Sunnah yg menyuruh jiran tetangga atau org2 Islam memberi makanan kpd keluarga si mati, bukan keluarga si mati menyediakan makanan utk org ramai".

~~~~~

Wednesday, January 26, 2011

Dalam transit...

TerimaKasih

Masa saya sekarang dalam "transit". Transit bukan Japan National Rail atau MRT Singapore atau Okinawa Monorel atau LRT tapi transit di perantaran masa. Dari satu waktu menyeberang satu waktu yang lain. Betulah istilah itu transit atau saya buat istilah baru transiportation.
Dalam waktu menanti beberapa perkembangan dalam hidup ini, saya sedang di pertengahan. Jadi untuk memanfaatkan penantian ini saya pulun segala bacaan yang ketinggalan. Mencari dan mengumpul buku-buku yang dalam senarai "wishlist".
Dalam kemelut kontroversi novel "Interlok" sekarang dan ramai pembaca di Malaysia sedang menjenguk setiap kedai buku untuk mendapatkan stock yang kehabisan, buku ini telah sampai ke tangan saya hari ini.
Terima kasih untuk teman yang sudi menghantarnya, jazakAllahu khaira :]

~~~~~

Monday, January 24, 2011

Another Tunisia?

Semalam lepas mandi sauna, terlentuk sekejap di ruang rehat sana. Bila terjaga, terasa badan sejuk dan terbersin-bersin sikit. Pagi ini awan mendung, langit suram dan dengan tidak sengaja terbaca laman ini...

http://blog.marhaen.info/index.php/laman-utama/1-artikelmarhaen/773-rosmah-mansor-ada-pejabat-haram-di-putrajaya

Terbahak ketawa sendiri melihat lakunan politikus (atau isteri masing-masing) di Malaysia. Lepas ini untuk melepaskan tension atau untuk hiburan murahan, klik saja mana-mana laman underground yang dah timbul macam cendawan racun di alam siber ini.
Enjoy :]

Sudahlah badan gedebab macam haram, duduk di pejabat secara haram, ada gelaran haram, apa nak jadi dengan isteri Perdana Menteri ini? Pemimpin-pemimpin BN sudah buta ke? Atau sudah gila? Takkanlah seorang politikus BN pun tidak berani menegur tingkah laku songsang mangkuk hayun bernama Imelda Rosmarkus ini?

Takkanlah semuanya sudah jadi pengecut yang hanya pandai membodek dan menikus sahaja? Mana pendekar keris kontot Hishammuddin Hussein? Mana Ibrahim Katak Pekasam? Takut dengan mak badak ke?


~~~~~

Saturday, January 22, 2011

Ahli Ma'sumeen

Adabul Haramain, Etiquettes of The Two Holy ShrinesAdabul Haramain, Etiquettes of The Two Holy Shrines by Jawas Husseiny Al-Shahrudy

My rating: 2 of 5 stars


As I was transferring some books onto a new book shelf, I found this book. This book was given to me by an unknown person. When she gave me, she scribbled something on the first page, "azar-Dec 26, 2005, I. R. Iran, Tehran".

Seeing this, it all seems to flow back in memory lane. I was doing my Haj and sitting with another lady in Masjid Nabawi, quietly doing my wirid while waiting for the last solat time to come.

She was sitting next to me in black abaya. She asked me why I used my fingers to wirid, don't I have a tasbih? I said no I don't have a tasbih and she gave me her tasbih. I rejected but she insisted. I rejected again telling her I like to use my finger to wirid. She agreed and I thought she might leave me alone.

She showed me this book and opened some pages. She talked about the 14 Ma'summen (a.s)and took the effort to list them down from the content of this book.

The Ziyarat of [1] Imam Ali (a.s), [2] Imam Hassan (a.s), [3] Imam Hassan (a.s), [4] Zeinul Abideen [5] Muhammad Baqir, [6] Ja'ffar Swadiq (a.s), [7] Imam Musa, [8] Ali bin Musa, [9] Mohammad Jawad, [10] Ali Naqi (a.s), [11] Imam Hassan al-Askari, [12] Imam Mahdi (a.s).

When I came home from the pilgrimage, I managed to finish reading it. Then only I realized what the book is all about.

As written in the front page, this book is for people who follows the teaching of Holy Prophet(s.a.w) and those chosen ones in Jannatul Baqee.


I follow the Al-Qur'an and Sunnah Rasulullah all the way till I die, insya-Allah.
This lady gave me her work card and email address but up till today, I've not send her any word.

~~~~~

Sunday, January 16, 2011

Asam, Garam, Gula & Kopi

Asam, Garam, Gula & KopiAsam, Garam, Gula & Kopi by Abd. Jalil Ali

My rating: 3 of 5 stars


Petikan dari Prakata buku ini:

"Kesemua artikel yang dipilih merupakan pengalaman hidup beliau sama ada pernah ditempuhi sendiri atau berdasarkan pengalaman sekeliling. Ia dikomplilasikan dari pelbagai terbitan Kumpulan Karangkraf, khususnya majalan Pesona Pengantin dan Seri Dewi & Keluarga.
Cara penyampaian yang santai dan bersahaja beliau begitu memikat. Kita sebagai pembaca pastinya tidak akan bosan malah akan setia membaca dari halaman ke halaman dgn asyik untuk mengetahui setiap satu kisah yg dipaparkan."

I read this because I want to know the present social trend in Malaysia. As in Prakata, most of the anecdotes are from the writer's own experience, so some of the "kebanyakan, nisbah, keseluruhan" remains just that.

But after reading this book, something else inspired me...



View all my reviews

***

Thursday, January 13, 2011

RESTU-Goodreads Review

Restu by Ismail Kassan

My rating: 4 of 5 stars
Novel "Restu" karya Ismail Kassan. Novel ini telah terpilih sbg pemenang Ke-2 bagi Hadiah Novel Melayu Baru Peransang-GAPENA 1993. Novel ini juga terpilih sbg teks KOMSAS.

Pada hlm 55-"Siew Yap bukan seperti orang tengah Cina lain yg berimejkan penghisap darah dan mementingkan hanya keuntungan."
Org Cina tak pulak gaduh nak bakar novel ini?

Membaca buku ini membuat saya benci kepada sekumpulan orang Melayu yg menghalang proses kemajuan hanya kerana mementingkan periuk nasi sendiri.
Contohnya jalan tanah merah sepanjang zaman tidak berubah sebab ada beberapa orang yg mempunyai lori, memonopoli dgn mengambil upah pengangkutan. Mereka membantah dan menghalang jalan itu dicantikkan, takut lori besar masuk dan mengambil kerja-kerja mereka. Akhirnya selama-lamanya kampung Melayu berdebu dgn tanah merah.
Ceritanya mempamerkan kemiskinan penduduk Melayu di tanah sendiri berbanding dgn pendatang Cina.
Pelik betul jika difikirkan, kenapalah orang Melayu miskin selama-lamanya padahal duduk bebas di tanah Melayu, bukannya menumpang atau merempat di negeri asing.
Penulis menyatakan orang Melayu yg miskin makan ubi kayu dan minum teh kosong. Tapi pada saya itu bukan miskin. Lagi pun di kampung-kampung, terdapat berbagai sayur-sayuran dan buah-buahan yang bermusim. Mengambil kira fakta ini, tidak mungkin orang kampung mati kebuluran.
Watak utama dlm novel ini seorang lelaki dan penulisnya bijak menghuraikan perasaan watak utama ini dengan tidak terlalu berlebih-lebihan atau "over-burdening" pembaca.
Rasanya tidak perlu penulis menceritakan watak Yasid yang hilang tiada berita sebab penceritaan novel ini adalah dari naratif watak utama. Elok membiarkan pembaca tertanya-tanya daripada menjelaskan segalanya.
Watak yang bernama Razoli mencabar watak utama dalam pentempuran di gelanggang. Pembaca tertanya-tanya (jika tidak membaca sampai habis) mengapa Razoli mencabar watak utama tanpa sebab. Sebenarnya pembaca akan mendapat jawapannya pada penghujung novel ini. Saya kata begini sebab ada beberapa komen yang merasa adegan cabaran di gelanggang majlis perkahwinan sebagai pelik dan tidak nampak kaitannya dalam keseluruhan plot dalam novel ini.

4 bintang, I LIKE :-]

****

Sunday, December 26, 2010

Pagi Semerah Daun Momiji

GLS

Pada 12 Jan 2011, saya menghantar manuskrip ini kepada salah satu syarikat penerbitan yang termasyhur di Malaysia. Namun selepas 3 bulan iaitu pada tarikh 31.3.2011, draf ini dipulangkan sebab saya dikatakan tersalah hantar manuskrip ini. Penerbit ini menyatakan mereka hanya mengambil manukrip "novel-novel cinta remaja". Manuskrip ini dikembalikan.

Buat waktu itu tajuknya berbunyi "Gurindam Langit Sakura.

Two ink tank each at Yen 1,800
One rim (500 pages) A4 paper at Yen 400
One file at Yen 250
Harga pos berdaftar Yen 3,500
Tangible capital Yen 8,050
Intangible capital Sweat and Blood

Word Count:101,730

Up, up and away...

******

Monday, December 20, 2010

Sahaya

Berita Harian, Dis. 17, 2010
Berita Harian Dis. 17, 2010

Susur galur yang mengalir dalam badan ini bukan Melayu asli. Boleh saja saya mengaku diri ini bukan Melayu. Emak dan bapa saya bertemu di Singapura dalam era penjajahan Inggeris. Seorang dari India dan seorang lagi dari Melaka, mencari rezeki dalam bandar yang serba membangun untuk meneruskan kehidupan.
Emak saya bukan orang sekolah tinggi dan bapa pula tidak fasih berbahasa Melayu. Pertuturan saya dari kecil hanya meniru cara emak saya yang pekat dengan loghat Negeri. Apa diharap kepada bapa saya pula dengan bahasa yang meniru imigran baru pada era itu.
Pada peringkat awal persekolahan, kami diajar bahasa Melayu sebagai bahasa kedua. Bahasa Inggeris menjadi bahasa utama. Kelas kurang sejam dalam 2 kali seminggu. Apa diharap kepada saya, anak separuh Melayu untuk meningkatkan bahasa Melayu.
Selepas menamatkan zaman persekolahan, kerjaya tidak menggalakkan pertuturan Bahasa Melayu.
Mendirikan rumah tangga dengan seorang jejaka Jepun dan selepasnya mengikutnya merantau selama 20 tahun, sejujurnya telah menghilangkan Bahasa Melayu yang daripada asal sudah mengalir lembap dalam diri ini.
Saya tidak sedar bahasa yang saya tuturkan hanya campuran dari berbagai-bagai bahasa. Ini amalan orang-orang di sekeliling saya dan saya hanya meniru sama seperti bapa, imigran dari India, yang meniru juga.
Seorang sahabat menyarankan saya menulis pengalaman hidup di pulau ini dalam blog. Saya mengambil saranan itu dan mula menulis. Pada awalnya catatan saya masih mengikut gaya penulisan pra-Merdeka bersama e-tanda dan segala ejaannya.
Ramai yang membantu untuk memperbaiki kelemahan ini sehingga senaskhah Kamus Dewan juga dihantarkan untuk saya.
Ramai juga yang menghina (mereka orang bijaksana dalam bahasa) kelemahan ini sehingga saya terpaksa berehat dari menulis dan berusaha sendiri untuk mempertingkatkan diri ini.
Berdikit-dikit saya membaca dalam diam tulisan orang-orang bijaksana dalam bahasa. Berdikit-dikit selama 5 tahun, bersendiri.
Dengan bantuan seorang sahabat yang mendorong penulisan novel ini dari awal ia berbenih, saya memanjat gunung itu sampai ke puncak jaya.
Saya bukan mengharapkan nama. Saya hanya ingin membuktikan kepada orang-orang yang pernah menghina saya.
Nah! Saya lulus!

*******

Thursday, December 16, 2010

Cotton Plant

Cotton Plant
Everywhere cotton plants (Pokok Kekabu) are at their blossom peak in Okinawa now. My brother-in-law showed his surprise when he visited us last week, to see the variety in Okinawa has pink flowers. He said in Malaysia and Singapore the flowers are white.
I remember my grandma had a cotton tree standing in the front yard. One of my visits there, she told us she wanted to cut the cotton tree.
When I heard her decision, I thought that would be my last cotton tree. I doubt anyone in Malaysia would be interested in cotton trees anymore. During its hey-day, the cotton trees products pods of cotton, my grandma made beautiful soft pillows and mattresses for us. It was that cotton tree that inspired me while plotting novel Pulut Sakura Serunding Kasih.
For sure after that cotton tree was cut off, I never once see any cotton tree in Malaysia. I sort of missed that cotton tree as it brought back lots of good memories of my childhood.
My cousins used to gather the pods and picked cotton from it and filled up sacks of cotton.
But the story of cotton trees in my life did not stop there.
When I moved in on this island, I saw streets here lined with cotton trees. Then, when it's time for the pod to break, the winds spread the cotton like snow flecks in winter.

Tersipu-sipu
buah pokok kekabu
terpancut isi.

*******